https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/issue/feed Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu 2026-04-03T01:14:06+00:00 I Nyoman Santiawan inyomansantiawan@gmail.com Open Journal Systems <p>Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu dengan ISSN Online <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1565596715&amp;9751&amp;&amp;"><strong><span style="text-decoration: underline;">2685-9832</span></strong></a> dan cetak <a href="http://u.lipi.go.id/1236945616" target="_blank" rel="noopener"><strong>2085-272X</strong></a> yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu. Terbit dua kali setahun setiap bulan Maret dan September. <span class="tlid-translation translation" lang="id"><span class="" title="">Jurnal ini menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi Sosial dan Budaya menggunakan perspektif interdisipliner, terutama dalam studi agama Hindu dan sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya</span></span></p> https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/344 MAKNA PELINGGIH DEWI SRI DI PURA SAMBI AGUNG SAPTO ARGO UNTUK UMAT HINDU DI DESA KESAMBEN 2026-03-31T15:20:09+00:00 Catur Koko Prasetyo caturkoko444@gmail.com <p><em>Pelinggih Dewi Sri is an important element in the practice of Hinduism in the archipelago, especially in communities with an agrarian background. This study aims to examine the existence of Pelinggih Dewi Sri, its form and accompanying symbols, religious and philosophical meanings, as well as the spiritual and social values ​​​​that Hindus obtain from the presence of Pelinggih Dewi Sri at Sambi Agung Sapto Argo Temple, Kesamben Village, Malang Regency. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data collection techniques were carried out through field observations, in-depth interviews with local Hindu leaders and followers, and documentation studies as supporting data to strengthen the research findings. The results of the study indicate that the existence of Pelinggih Dewi Sri at Sambi Agung Sapto Argo Temple has a historical background that is closely related to the spiritual needs of agrarian communities in praying for soil fertility, smooth plant growth, and abundant harvests. In terms of form, structure, and symbols, this pelinggih represents cosmological and philosophical meanings that reflect the balance of the relationship between humans, nature, and Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Religiously, the Pelinggih Dewi Sri is interpreted as a medium for worshiping Saguna Brahman in the aspect of maintaining life, which is manifested through various religious rituals and ceremonies. In addition to playing a role in various religious activities and ceremonies, the Pelinggih Dewi Sri also provides spiritual values ​​​​in the form of gratitude, ecological awareness, and inner peace for the congregation. From a social perspective, the existence of this pelinggih strengthens the values ​​​​of togetherness, mutual cooperation, and serves as a means of character education for the younger generation. Thus, the Pelinggih Dewi Sri functions not only as a place of worship, but also as a center for developing religious, social, and cultural awareness of the Hindu community of Kesamben Village.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Keywords: Pelinggih Dewi Sri; Hindu Temple; Hindu Community; Kesamben Village; Fertility</em></p> 2026-03-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/345 MAKNA MEPRANI DI DESA ADAT SEMPIDI DALAM AJARAN TATTWA HINDU 2026-04-02T13:46:27+00:00 Ni Luh Widya Kesuma Dewi kusumawidya@gmail.com <p><strong>Abstract</strong></p> <p>The Meprani Tradition is a religious tradition still practiced by the Sempidi community as part of a series of ceremonies at the Khayangan Tiga Temple. From the perspective of Tattwa Hindu teachings, this study examines the meaning of the Meprani Tradition. This research employed a qualitative, descriptive approach, employing observation, interviews with traditional leaders and figures, and literature review. The results indicate that the Meprani Tradition embodies the meaning of Sraddha and Bhakti, reflected in the community's sincerity in making offerings in the form of gebogan (a type of sacred offering) without the pressure of a large ceremonial offering. This tradition is also a way to carry out Dewa Yadnya (the offering of God). Meprani also reflects the application of the Tri Hita Karana concept, which is the harmonious relationship between humans, God, fellow humans, and nature. The involvement of all traditional communities across generations makes the Meprani Tradition a means of spiritual education and the ongoing transmission of religious values. Thus, this tradition serves not only as a cultural heritage but also as a reinforcement of Tattwa Hindu teachings in the lives of the Sempidi community.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Meprani; Tattwa Hindu; Sempidi Traditional Village; Tri Hita Karana; Sraddha and Bhakti; Yadnya</em></p> 2026-03-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/346 Memahami Makna dan Tujuan Tradisi Nyedaang Duwe: Sebuah Studi Tentang Nilai -Nilai Spiritual dan Budaya di Desa Tambakan Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. 2026-03-31T16:39:39+00:00 NI Putu RintyaNingsih pututya0808@gmail.com <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Tradisi merupakan aspek krusial dalam identitas budaya masyarakat Bali. Bagi masyarakat Bali, tradisi tidak sekadar merupakan warisan leluhur, melainkan juga berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan. Saya menemukan sebuah tradisi yang sangat khas di Desa Tambakan, Buleleng, yaitu Nyedaang Duwe, sebuah tradisi yang dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat dan mencerminkan keyakinan mereka. Tradisi ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada Purnama Kasa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan tujuan dari tradisi Nyedaang Duwe serta nilai-nilai spiritual, budaya, dan ajaran Tattwa yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara terhadap salah satu warga Desa Tambakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyedaang Duwe merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Tambakan. Pelaksanaan tradisi ini bertujuan sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan niskala, ungkapan rasa syukur, serta upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Kesakralan tradisi ini berasal dari berbagai mitos yang berkembang dalam masyarakat serta kuatnya keyakinan masyarakat Desa Tambakan. Dalam pelaksanaannya, media yang digunakan adalah sapi duwe yang dianggap suci serta upacara yadnya dengan banten (perlengkapan yadnya) yang lengkap. Pelaksanaan tradisi ini memperkuat nilai budaya dan kebersamaan yang dijaga oleh masyarakat Desa Tambakan demi melestarikan tradisi ini dari generasi ke generasi.</p> <p><strong>Kata kunci: tradisi nyedaang duwe, nilai spiritual, budaya</strong></p> 2026-03-31T14:17:26+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/353 Kepemimpinan Kultural Kepala Sekolah, Budaya Literasi Baca Tulis, Dan Pembelajaran Mendalam: Studi Etnografi Di Sekolah Dasar 2026-03-31T15:20:09+00:00 Trimo elangtrie@gmail.com Ni Ketut Srie Kusuma Wardhani sriekusuma@uhnsugriwa.ac.id <p>Penelitian etnografi ini mengkaji keterjalinan kepemimpinan kultural kepala sekolah, budaya literasi baca tulis sebagai praktik kultural sekolah, dan implementasi pembelajaran mendalam di SD Negeri Rejosari 1 Semarang. Fokus kajian diarahkan pada proses konstruksi makna literasi melalui praktik simbolik, relasi sosial, serta artefak institusional yang hidup dalam keseharian sekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan etnografi untuk memetakan pola integratif budaya sekolah. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan kultural berfungsi sebagai penggerak makna melalui keteladanan dan kebijakan sistemik yang menempatkan literasi sebagai identitas institusional. Budaya literasi terlembagakan melalui ritual, pengondisian lingkungan literat, serta keterlibatan lintas aktor. Pembelajaran mendalam mengonkretkan nilai literasi dalam pedagogi berbasis proyek, refleksi, dialog argumentatif, dan produksi karya autentik lintas mata pelajaran. Keterjalinan ketiga pilar tersebut membentuk ekosistem literasi berkelanjutan yang memungkinkan transformasi pedagogis berlangsung sistemik dan tidak bergantung pada figur tunggal. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan model sekolah literasi berkelanjutan berbasis kepemimpinan kultural dan pedagogi pembelajaran mendalam.</p> 2026-03-31T14:22:38+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/357 MEMAHAMI HAKEKAT TUHAN DALAM CANDHOGYA UPANISAD 2026-03-31T15:20:09+00:00 Sujaelanto jaelanto@yahoo.com <p>God is the central object in world religions and has a variety of terms. God, as energy, is able to empower every creature and sustain the laws of nature. People differ in their abilities to internalize God, thus understanding God's essence in different ways. God, with all His omnipotence, is able to permeate every space and time, making it impossible for humans to grasp the full essence of God. Whatever category humans assign to God, He remains omnipotent, unaffected by space and time. The development of knowledge regarding divine theology has impacted human thought, including the thinking of religious communities. Each religious scripture, including the Chandogya Upanisad, provides an understanding of God's essence in its own way. The Chandogya Upanisad is a Hindu scripture that explains the essence of God, which permeates space, time, and all beings. The essence of God in the Chandogya Upanisad is one, identified with Brahman, Prajapati, Sat, Om, and Ugdatha. The essence that permeates space and time becomes the nature of God who is both pantheistic and monistic with the framework of sarvam khalv idam brahma (indeed the entire universe is Brahma), tat tvam asi (but He is not polytheistic or henotheistic. His existence is Immanent, so He becomes Atma and at the same time Transcendent because He is everything that is different from the nature of His creation. He is form, but not formless.</p> 2026-03-31T14:25:38+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/358 TRANSFORMASI PENDIDIKAN MELALUI KURIKULUM BERBASIS CINTA DALAM PENDIDIKAN KEAGAMAAN 2026-03-31T15:20:09+00:00 Toto Margiyono totokdwijokangko@gmail.com Shinta Tyas Pratisthita shintasp11@gmail.com <p>Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah pendekatan pendidikan humanistik-spiritual yang menempatkan kasih sayang, empati, dan kepedulian sebagai inti proses pembelajaran. Konsep <em>Panca Cinta</em> menjadi kerangka operasional dalam pembentukan karakter peserta didik, meliputi cinta kepada Tuhan, ilmu, lingkungan, diri dan sesama, serta tanah air. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) relevan dalam menjawab krisis moral dan sosial dengan membentuk peserta didik yang berkarakter, berkesadaran spiritual, berempati sosial, serta mampu mewujudkan nilai <em>Dharma, Ahimsa, Satya</em>, dan <em>Karuna</em> dalam kehidupan sehari-hari.</p> 2026-03-31T14:37:05+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/360 MANFAAT RUMAH BINA KELUARGA SUKINAH DALAM MENCEGAH PERCERAIAN : STUDI ANALISIS PADA MASYARAKAT HINDU DI KOTA BOGOR 2026-03-31T15:20:09+00:00 I Dewa Ketut merta idewaketutmerta@gmail.com Untung Suhardi usuhardi@gmai.com Dian Syanita Utami Dewi diansyanita.dewi@gmail.com <p>Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS) merupakan lembaga yang memberikan pemahaman kepada umat untuk pembinaan pranikah dan pascanikah untuk keluarga yang harmonis. Namun kenyataannya lembaga konseling sebagai respons atas kurang optimalnya bimbingan pranikah yang cenderung bersifat formalitas administrative. Pokok masalah penelitiannya adalah bentuk Bentuk Pelaksanaan Konseling untuk mencegah perceraian dan Manfaat Konseling dan Strategi Komunikasi Empatik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam , observasi partisipatif, dan analisis dokumen terhadap 10 informan yang terdiri atas konselor, tokoh agama dan pasangan muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa.&nbsp; Bentuk Pelaksanaan Konseling untuk mencegah perceraian dengan Integrasikan pendekatan spiritual dalam setiap sesi bimbingan, Mengembangkan modul komunikasi efektif untuk konselor, memperkuat metode konseling personal dan empati, Menyediakan materi edukasi yang relevan dan praktis, dan Kolaborasi dengan tokoh agama untuk penguatan aspek spiritual. Manfaat Konseling dan Strategi Komunikasi Empatik untuk Mencegah Perceraian berupa Memprioritaskan program penguatan kesiapan mental dan psikologis sebagai fondasi utama, Mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan agama dalam setiap sesi bimbingan, Membangun sistem dukungan sosial yang melibatkan keluarga dan lingkungan, Fokus pada outcome psikologis emosional dan peningkatan kesadaran, dan Menciptakan program berkelanjutan dengan orientasi masa depan dan kesuksesan. Simpulan penelitian ini adalah konseling preventif perceraian menekankan komunikasi empatik, spiritual, dan personal untuk masa depan. Implikasi Teoritikal memperkaya teori komunikasi antarpribadi dengan menegaskan bahwa empati, spiritualitas, dan dukungan sosial merupakan elemen kunci dalam intervensi krisis keluarga. Implikasi Praktikal konselor perlu mengintegrasikan keterampilan komunikasi empatik dan nilai spiritual dalam modul serta melibatkan tokoh agama dan keluarga untuk penguatan pasangan</p> 2026-03-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/365 SINERGI PERGURUAN TINGGI, GURU, DAN MASYARAKAT DALAM GERAKAN PENDIDIKAN CINTA LINGKUNGAN 2026-03-31T15:20:09+00:00 Ida Bagus Gede Candrawan ibgcandrawan@gmail.com <p>Krisis ekologi global merupakan ancaman multidimensional yang menuntut respons serius dari sektor pendidikan. Makalah ini untuk merumuskan model sinergi multipihak, perguruan tinggi, guru, dan masyarakat dalam gerakan pendidikan cinta lingkungan yang holistik dan berkelanjutan. Melalui pendekatan filosofis seperti deep ecology dan ekopedagogi, pendidikan lingkungan perlu mengubah paradigma dari antroposentris menjadi ekosentris, menekankan nilai intrinsik alam dan kesadaran ekologis kritis. Perguruan tinggi berperan sebagai pusat keilmuan dan inovasi, guru sebagai pengintegrasi nilai ekologis dalam kurikulum dan budaya sekolah, serta masyarakat sebagai penyedia kearifan lokal dan laboratorium pembelajaran kontekstual. Sinergi ketiganya menciptakan ekosistem pendidikan yang memadukan ilmu, pedagogi, dan praktik lokal, sehingga mampu membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, etika, dan komitmen kuat untuk menjaga keberlanjutan bumi</p> 2026-03-31T14:45:23+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/367 IMPLEMENTASI DHARMA GITA JAWA DALAM PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL PADA MAHASISWA SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI JAWA DWIPA KLATEN JAWA TENGAH 2026-03-31T15:20:09+00:00 Bibit Hariyadi bibitharyadi100@gmail.com <p><em>Dharma Gita</em> merupakan nyanyian suci agama Hindu yang memiliki fungsi sebagai media ekspresi spiritual dan penyampaian nilai religius dan moral. Dalam konteks budaya Jawa, <em>Dharma Gita</em> berkembang melalui adaptasi dengan tradisi lokal seperti <em>tembang macapat</em>, <em>kidung</em>, dan pembacaan sloka bernada tembang. Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi kearifan lokal menghadapi beberapa tantangan, sehingga diperlukan upaya pelestarian melalui lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi <em>Dharma Gita</em> Jawa pada mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa Klaten, Jawa Tengah.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggali implementasi <em>Dharma Gita</em> Jawa dalam lingkungan akademik. Data diperoleh melalui kajian aktivitas keagamaan, kurikulum pembelajaran, serta kegiatan kemahasiswaan yang berkaitan dengan praktik <em>Dharma Gita</em>. Analisis dilakukan dengan menelaah peran <em>Dharma Gita</em> sebagai media pendidikan dan sarana pelestarian budaya lokal.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi <em>Dharma Gita</em> Jawa pada mahasiswa dilakukan melalui tiga bentuk utama, yaitu integrasi dalam kurikulum melalui mata kuliah <em>Dharma Gita</em> dan <em>tembang</em>, pengembangan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa seperti <em>karawitan</em> dan <em>kidung</em>, serta penerapan dalam kegiatan keagamaan melalui pembacaan <em>sloka</em>, pelantunan <em>kidung</em>, dan <em>tembang macapat</em> dalam persembahyangan. Implementasi tersebut berkontribusi dalam memperkuat religiusitas mahasiswa, menumbuhkan kesadaran budaya, serta mendorong pelestarian kearifan lokal Jawa di lingkungan perguruan tinggi Hindu</p> 2026-03-31T14:48:44+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/371 PENGGUNAAN MEDIA INTERAKTIF BERBASIS POWERPOINT DALAM MENUMBUHKAN MINAT DAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA HINDU DI SD NEGERI 1 PASUNG KECAMATAN WEDI 2026-04-03T01:14:06+00:00 Dipa Hayu Widyaningsih dipahayu2@gmail.com Dewi Ayu Wisnu Wardani dewidanendra3@gmail.com Agus Riyadi gusryadia@gmail.com <p>Pembelajaran Agama Hindu di tingkat sekolah dasar memainkan peran krusial dalam pembentukan karakter, moralitas, dan dimensi spiritual peserta didik. Namun, pendekatan pembelajaran yang masih konvensional sering kali mengakibatkan kurangnya minat siswa dan kesulitan dalam memahami konsep-konsep ajaran Hindu yang abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konseptual siswa terhadap materi Agama Hindu melalui penerapan media interaktif berbasis PowerPoint di SD Negeri 1 Pasung, Kecamatan Wedi. Penelitian ini melibatkan sembilan siswa kelas 1 hingga 6 sebagai subjek. Peneliti berperan ganda sebagai instruktur dan pengamat selama proses pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas siswa, catatan lapangan, dan evaluasi hasil belajar. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk mengevaluasi perubahan perilaku, partisipasi, dan pemahaman siswa sebelum dan setelah intervensi media. Temuan menunjukkan bahwa implementasi media interaktif berbasis PowerPoint secara signifikan meningkatkan minat belajar dan pemahaman siswa terhadap ajaran Hindu. Siswa menjadi lebih aktif, antusias, dan mampu menghubungkan konsep seperti <em>Tri Kaya Parisudha</em>, <em>Tat Twam Asi</em>, dan <em>Karma Phala</em> dengan konteks kehidupan sehari-hari. Elemen-elemen seperti gambar, animasi, dan kuis interaktif dalam PowerPoint menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media interaktif berbasis PowerPoint merupakan strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Agama Hindu di sekolah dasar. Keberhasilan implementasinya sangat tergantung pada kreativitas instruktur dalam merancang konten visual dan menjaga keseimbangan antara teknologi dengan nilai-nilai spiritual dalam proses pedagogis.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Media interaktif, PowerPoint, Agama Hindu, Minat belajar, Pemahaman konsep</p> 2026-03-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu https://ejournal.sthd-jateng.ac.id/index.php/WidyaAksara/article/view/369 ABORSI DALAM PERSPEKTIF HINDU: KAJIAN ETIKA, HUKUM KARMA PALA DAN SPIRITUALITAS 2026-04-02T13:41:20+00:00 I Nyoman Warta nyomanwartajogja@gmail.com <p>Prilaku aborsi secara umum didefinisikan sebagai tindakan menggugurkan kandungan, tindakan yang tidak bertanggung jawab dan prilaku yang sanga keliru. Hubungan seks&nbsp; harus dilakukan dalam suasana yang tentram, damai, dan penuh kasih sayang. Hubungan Sek yang dilakukan dalam keadaan serba marah, sedih, mabuk, atau tidak sadar, akan&nbsp; mempengaruhi prilaku anak yang lahir kemuadia. Dengan demikian hubungan seks terjadi melalui upacara pewiwahan dan dilakukan semata-mata untuk memperoleh anak, jelaslah sudah bahwa aborsi dalam Agama Hindu tidak&nbsp; dibenarka.</p> <p>Secara umum, aborsi yang disengaja merupakan sebuah keputusan yang sifatnya personal atau tergantung pada kondisi kehamilan. Sebagai contoh, tindakan aborsi harus mendapat persetujuan pasien dan didasarkan pada indikasi medisnya dan keperluan pasien, seperti khawatir bayi yang dikandung akan menurunkan penyakit bawaan, kehamilan yang tidak diinginkan, apabila kehamilan tersebut membahayakan kesehatan, bahkan nyawa sang ibu.</p> <p>Titik temu antara kedokteran, hukum, dan Hindu. Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa aborsi merupakan isu kompleks yang melibatkan dimensi medis, hukum, moral, dan spiritual. Dalam pandangan medis, kehidupan manusia dimulai sejak proses pembuahan dan berkembang melalui tahapan biologis yang sangat teratur hingga terbentuk janin yang memiliki fungsi vital. Oleh karena itu, setiap tindakan penghentian kehamilan harus dipertimbangkan dengan hati-hati, berdasarkan indikasi medis yang jelas, serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.</p> 2026-03-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu