TRI HITA KARANA SEBAGAI PELESTARI SEMESTA
Abstract
The global ecological crisis characterized by environmental degradation, climate change, and biodiversity loss urges a need for holistic and sustainable alternative approaches. This paper examines Tri Hita Karana, a Balinese Hindu philosophy that offers a unique integration of spiritual, social, and ecological values as a solution to environmental problems. Using qualitative methods with a cultural ecology approach, this study analyzes how the three main principles of Tri Hita Karana Parhyangan (human-God relationship), Pawongan (human-human relationship), and Palemahan (human-nature relationship)—contribute to ecosystem preservation in Bali. Parhyangan positions nature as a manifestation of the sacred Ida Sang Hyang Widhi, manifested through rituals such as Tumpek Uduh (vegetation) and Melasti (nature purification), as well as customary prohibitions (awig-awig) against the exploitation of forbidden forests. These principles instill a conservation ethic based on religious beliefs, protecting biodiversity organically. Pawongan strengthens communal collaboration in natural resource management, such as the subak system (a UNESCO-recognized traditional irrigation system) that ensures equitable water distribution and prevents ecological conflict. Meanwhile, Palemahan promotes environmentally friendly practices through traditional architecture, organic waste recycling, and coastal ecosystem restoration. The teachings of Tri Hita Karana are not only effective in maintaining Bali's ecological balance but also offer a globally relevant model of environmental ethics. However, this philosophy faces challenges from modernization, such as industrialization and mass tourism, which threaten the sustainability of local values. This suggests that integrating traditional wisdom such as Tri Hita Karana into development policies can be a transformative solution to the ecological crisis, emphasizing that humans are an integral part of, rather than masters of, the universe. These findings contribute to academic discussions on cultural ecology and sustainability, while also underscoring the importance of revitalizing local wisdom in responding to contemporary environmental challenges.
References
Kajeng I Nyoman (1999), Sarasamuscaya, Paramita Surabaya.
Komang, H. (2024). Implementasi Konsep Pawongan Dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama Di Kabupaten Buleleng. Widya Sandhi, 109-121.
Pangestu, M. E. (2024, 16 Desember). Tri Hita Karana relevan pedomani pembangunan berkelanjutan. ANTARA News Bali. Diambil dari https://bali.antaranews.com/berita/364906
Pemerintah Provinsi Bali. (2023, 10 November). Konsep Tri Hita Karana: Harmoni dalam kehidupan menurut tradisi Bali. Tarubali Bali. Diambil dari https://tarubali.baliprov.go.id/konsep-tri-hita-karana-harmoni-dalam-kehidupan-me nurut-tradisi-bali
Pitana, I Gde. (1999). Subak: Sistem Irigasi Tradisional di Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Pitana, I. (2010). Tri Hita Karana – The local wisdom of the Balinese in managing development. Dalam R. Conrady & M. Buck (Ed.), Trends and Issues in Global Tourism 2010 (hlm. 139–150). Springer.
Pudja.G.( 2025) Bhagawad Gita (Pancama Veda) Paramita Surabaya
Roth, D. (2014). Environmental sustainability and legal plurality in irrigation: The Balinese subak. Current Opinion in Environmental Sustainability, 11, 1–9. https: //doi.org/10.1016/j.cosust.2014.09.011
Rudana, P. S. (2022, 24 Maret). Tri Hita Karana philosophy is in line with SDGs. Situs DPR RI. Diambil dari https://en.dpr.go.id/berita/detail/id/38197 Sri, W. (1978). Subak, A Traditional Organization of Peasant Farmers in Bali. Agro Ekonomi, 59-69.
Sutawan, N. (2008). Ekologi dan Kearifan Lokal: Studi Kasus Subak di Bali. Jurnal Ekologi, 10(2), 45-56.
UNESCO World Heritage Centre. (2012). Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy. UNESCO. Diakses dari https://whc.unesco.org/en/list/119
Wiana, I, K. (2007). Tri Hita Karana: Dari Konsep ke Aksi. Denpasar: Yayasan Tri Hita Karana Bali.
Wirawan, I. M. A. (2011). Tri Hita Karana: Kajian teologi, sosiologi dan ekologi menurut Weda. Paramita.
Yusuf, N. F. (2023, 5 Maret). Tri Hita Karana jadi kekuatan pariwisata Bali berkelanjutan.
ANTARA News Bali. Diaali. Agro Ekonomi, 59-69.
Copyright (c) 2025 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang mengirimkan naskah melakukannya dengan pengertian bahwa jika diterima untuk publikasi, hak cipta dari artikel tersebut akan diserahkan ke Widya Aksara sebagai penerbit jurnal.
Hak cipta mencakup hak eksklusif untuk mereproduksi dan mengirimkan artikel dalam semua bentuk dan media, termasuk cetak ulang, foto, mikrofilm, dan reproduksi serupa lainnya, serta terjemahannya. Reproduksi bagian manapun dari jurnal ini, penyimpanannya dalam database dan pengirimannya oleh segala bentuk atau media, seperti salinan elektronik, elektrostatik dan mekanis, fotokopi, rekaman, media magnetik, dll., Hanya akan diizinkan dengan izin tertulis dari Widya Aksara. Namun, Penulis memiliki hak untuk yang berikut:
1. Duplikat semua atau sebagian dari materi yang diterbitkan untuk digunakan oleh penulis sendiri sebagai instruksi kelas atau materi presentasi verbal di berbagai forum;
2. Menggunakan kembali sebagian atau seluruh bahan sebagai kompilasi bahan untuk pekerjaan penulis;
3. Membuat salinan dari materi yang diterbitkan untuk didistribusikan di dalam institut tempat penulis bekerja.
STHD Klaten dan Widya Aksara melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa tidak ada data, pendapat, atau pernyataan yang salah atau menyesatkan diterbitkan dalam jurnal. Dengan cara apa pun, isi artikel dan iklan yang diterbitkan dalam Widya Aksara adalah tanggung jawab tunggal dan eksklusif masing-masing penulis dan pengiklan.

.png)




