MAKNA PELINGGIH DEWI SRI DI PURA SAMBI AGUNG SAPTO ARGO UNTUK UMAT HINDU DI DESA KESAMBEN
Abstract
Pelinggih Dewi Sri is an important element in the practice of Hinduism in the archipelago, especially in communities with an agrarian background. This study aims to examine the existence of Pelinggih Dewi Sri, its form and accompanying symbols, religious and philosophical meanings, as well as the spiritual and social values that Hindus obtain from the presence of Pelinggih Dewi Sri at Sambi Agung Sapto Argo Temple, Kesamben Village, Malang Regency. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data collection techniques were carried out through field observations, in-depth interviews with local Hindu leaders and followers, and documentation studies as supporting data to strengthen the research findings. The results of the study indicate that the existence of Pelinggih Dewi Sri at Sambi Agung Sapto Argo Temple has a historical background that is closely related to the spiritual needs of agrarian communities in praying for soil fertility, smooth plant growth, and abundant harvests. In terms of form, structure, and symbols, this pelinggih represents cosmological and philosophical meanings that reflect the balance of the relationship between humans, nature, and Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Religiously, the Pelinggih Dewi Sri is interpreted as a medium for worshiping Saguna Brahman in the aspect of maintaining life, which is manifested through various religious rituals and ceremonies. In addition to playing a role in various religious activities and ceremonies, the Pelinggih Dewi Sri also provides spiritual values in the form of gratitude, ecological awareness, and inner peace for the congregation. From a social perspective, the existence of this pelinggih strengthens the values of togetherness, mutual cooperation, and serves as a means of character education for the younger generation. Thus, the Pelinggih Dewi Sri functions not only as a place of worship, but also as a center for developing religious, social, and cultural awareness of the Hindu community of Kesamben Village.
Keywords: Pelinggih Dewi Sri; Hindu Temple; Hindu Community; Kesamben Village; Fertility
References
Ardhani, O., Bahasa, B. J., Rusman, W. N., Susanto, D., Indonesia, P. S., Bahasa, F., Tengah, J., Hyang, S., & Barat, J. (2022). Makna Kesuburan dalam Mitos Dewi Sri dan Dewi Laksmi : Kajian Sastra Bandingan FERTILITY IN THE MYTH OF DEWI SRI AND DEWI LAKSMI : Tuhan . Pengkultusan Dewi Sri sebagai sebagai letak geografis , kedua figur Dewi ini Adapun Dewi Laksmi identik sebagai peli. 10(2), 339–351. https://doi.org/10.20961/basastra.v10i2.57599
Luh, N., Candrawati, K., Made, N., Paramitha, D., Agung, A., & Putra, P. (2023). Representation of Dewi Sri in Balinese Farming Ceremonies : A Multimodal Study. 9(4), 132–144.
Manyangen, T., & Desa, D. I. (2021). No Title. 04.
Rahman, A. S., & Brawijaya, U. (2022). TINJAUAN NARASI DAN VISUAL FOLKLOR JAWA TIMUR PENDAHULUAN Dewi Sri adalah tokoh mitos dalam sistem kepercayaan masyarakat petani di Jawa . Figurnya dipercayai sebagai tokoh yang memberi berkah dan kesuburan dalam pertanian . Dinyatakan oleh Pamberton ( 20. Jurnal Sastra Lisan, 1(1), 17–27. https://doi.org/10.51817/jsl.v1i1.142
Satria, M. W., Deddy, K., & Prasandya, E. (2024). Aesthetic Study of Temple Architecture in Bali : A Case Study of Pamesuan Pura Puru Sada , Pura Agung Kentel Bumi , and Pura Batuan. 4, 20–26.
Subhaktiyasa, P. G., Ni, S., Sintari, N., Rizki, K., Andriana, F., Sumaryani, N. P., Werang, B. R., & Sudiarta, I. N. (2024). Tri Hita Karana and Organizational Culture in Society 5 . 0 : Effect on Adaptability , Consistency , Involvement , and Mission. 9(1), 1–10.
Windya, I. M. (2021). Brahmawidyā Dalam Tattwa Sanghyang Mahājñāna. 4(3), 321–333.
Copyright (c) 2026 Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang mengirimkan naskah melakukannya dengan pengertian bahwa jika diterima untuk publikasi, hak cipta dari artikel tersebut akan diserahkan ke Widya Aksara sebagai penerbit jurnal.
Hak cipta mencakup hak eksklusif untuk mereproduksi dan mengirimkan artikel dalam semua bentuk dan media, termasuk cetak ulang, foto, mikrofilm, dan reproduksi serupa lainnya, serta terjemahannya. Reproduksi bagian manapun dari jurnal ini, penyimpanannya dalam database dan pengirimannya oleh segala bentuk atau media, seperti salinan elektronik, elektrostatik dan mekanis, fotokopi, rekaman, media magnetik, dll., Hanya akan diizinkan dengan izin tertulis dari Widya Aksara. Namun, Penulis memiliki hak untuk yang berikut:
1. Duplikat semua atau sebagian dari materi yang diterbitkan untuk digunakan oleh penulis sendiri sebagai instruksi kelas atau materi presentasi verbal di berbagai forum;
2. Menggunakan kembali sebagian atau seluruh bahan sebagai kompilasi bahan untuk pekerjaan penulis;
3. Membuat salinan dari materi yang diterbitkan untuk didistribusikan di dalam institut tempat penulis bekerja.
STHD Klaten dan Widya Aksara melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa tidak ada data, pendapat, atau pernyataan yang salah atau menyesatkan diterbitkan dalam jurnal. Dengan cara apa pun, isi artikel dan iklan yang diterbitkan dalam Widya Aksara adalah tanggung jawab tunggal dan eksklusif masing-masing penulis dan pengiklan.

.png)




