PROSESI UPACARA WALAGARA MASYARAKAT TENGGER DESA NGADIWONO KECAMATAN TOSARI KABUPATEN PASURUAN DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU
DOI:
https://doi.org/10.54714/jd.v7i1.150Keywords:
Walagara, masyarakat Tengger, pendidikan agama Hindu, ritual adat, nilai budayaAbstract
Latar belakang penelitian ini berangkat dari kuatnya komitmen masyarakat Tengger Desa Ngadiwono dalam mempertahankan adat, tradisi, dan budaya leluhur yang masih dilaksanakan secara berkelanjutan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang masih dijunjung tinggi adalah upacara Walagara sebagai bagian penting dalam siklus kehidupan sosial-keagamaan masyarakat setempat. Upacara Walagara merupakan bagian dari tradisi wiwaha Samskara masyarakat Tengger yang memiliki fungsi religius, social, dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam prosesi, tujuan dan makna, serta nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara Walagara di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial, budaya, dan keagamaan yang berkembang dalam masyarakat Tengger, khususnya berkaitan dengan prosesi Upacara Walagara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi upacara Walagara Putihan terdiri atas beberapa tahapan, yaitu: (a) suguhan kepada para leluhur yang dilaksanakan pada sore hari pertama, (b) rakatawang sebagai pembuka hubungan antara alam leluhur dan alam manusia, (c) nurunen, (d) temu manten, (e) walagara, (f) dedulit, (g) antrem-antrem, (h) kayopan agung, (i) gelang lawe, (j) nampeng, (k) mangsu, (l) bati/bakti, (m) persaitan, dan (n) mangsu sebagai tahap penutup upacara. Upacara Walagara memiliki tujuan sebagai sarana pembersihan secara sekala dan niskala, pengesahan ikatan perkawinan, serta pemberitahuan kepada Dhyang Banyu, leluhur, dan Rojo Kabuyutan bahwa pasangan pengantin telah resmi menjadi suami istri. Selain itu, upacara ini juga dimaknai sebagai upaya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Tengger. Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara Walagara meliputi nilai kebersamaan dan gotong royong, kesusilaan, harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia, dan alam (Tri Hita Karana), nilai yadnya (pengorbanan suci), serta nilai tanggung jawab sosial dan spiritual. Dengan demikian, upacara Walagara tidak hanya memiliki makna ritual, tetapi juga mengandung nilai edukatif yang relevan dalam pembentukan karakter masyarakat.
References
Chanifah, N., & Raya, M. K. F. (2025). WALAGARA: The Hybrid Ritual of Tengger Mountains Ethnic Wedding. Cogent Arts & Humanities, 13(1).
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2024). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (6th ed.). Sage Publications.
Dewi, P. I. A. (2024). Moderasi Hindu dalam Tri Kerangka Dasar Agama Hindu di Bali. Widya Dana: Jurnal Penelitian Ilmu Agama dan Kebudayaan, 1(1), 90–100.
Durkheim, É. (1912). The Elementary Forms of Religious Life. (Rujukan teori klasik sosiologi agama).
Fadli, M. R. (2024). Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif. Humanika, 24(1), 33–54.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.
Hakim, A., Naibin, N., Siddiq, S., Mu’allifin, M. D. A., & Ramadloni, M. A. (2024). Traditional Marriage in The Tengger Community Perspective of Acculturation Theory. Al-Qalam, 30(2).
Meilinda, F. P. (2024). Adat Walagara Perkawinan Masyarakat Suku Tengger Probolinggo Berbasis Transendental. Prosiding Seminar Nasional Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2024). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (5th ed.). Sage Publications.
Narti, I. A. (2024). Teologi Tri Hita Karana dalam Praktik Kehidupan Sosial-Ekologis Masyarakat Hindu Bali. Śruti: Jurnal Agama Hindu, 2(4).
Oktarini, N. N. A. (2024). Upacara Manusa Yajna dalam Agama Hindu: Kajian Fungsi dan Makna Sosial. Śruti: Jurnal Agama Hindu, 2(4).
Rahmawati, E., & Suseno, B. (2024). Tradisi Masyarakat Tengger sebagai Aset Budaya dan Identitas Lokal. Jurnal Nusantara, 4(1), 1–15.
Sudarsana, I. K. (2024). Pendidikan Agama Hindu Berbasis Nilai-Nilai Dharma. Denpasar: Jayapangus Press.
Sugiyono. (2024). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sukmawan, S., & Alifah, N. (2024). Harmonisasi Manusia dengan Alam dan Ekologi: Kajian atas Budaya Tamping di Masyarakat Tengger. Jurnal Kawistara, 14(2), 186–201.
Taniardi, P. N. (2024). Tradisi Megalitik pada Ritual Kekerik di Kalangan Masyarakat Tengger. Berkala Arkeologi, 33(2), 97–110.
Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing.

.png)



